Kreativitas dan Inovasi

Sambil menunggu buka puasa googling menemukan tulisan ini.

Kreativitas dan Inovasi

Oleh : Rhenald Kasali

Guru Besar Fakultas Ekonomi UI

SEPANJANG minggu la­lu, saya terlibat dalam dua kegiatan tentang inovasi.  Satu, CFO Forum yang diseleng­garakan Bank Mandiri dengan keynote speaker Dahlan Iskan. Kedua, pameran keramik yang diselenggarakan oleh Asaki (Asosiasi Keramik Indonesia) dengan tema creativity and innovation for better living.

 

Dahlan Iskan mengatakan, kalau disodori dua orang calon direktur keuangan dan dua-duanya adalah financial expert, dia akan mencari siapa yang memiliki lebih dari itu, financial attitude. Dialah orang yang mendorong inovasi yang tidak semata-mata melihat kinerja keuangan atau sekadar pandai membaca laporan keuangan. Bagaimana pelaksanaannya?

 

 

Keramik Centro

 

Pelaksanaannya ada pada BUMN-BUMN yang sekarang menjalani proses transformasi yang kuat. Harus diakui, dewasa ini ada beberapa BUMN yang dipimpin orang-orang yang memiliki financial attitude yang kuat, yang membuat beberapa BUMN berlari kencang. Sebegitu kencangnya sehingga Dahlan berpesan: ”Saya mau BUMN makin kuat, tetapi swasta juga harus kuat melawan BUMN-BUMN ini. BUMN harus dilawan oleh swasta yang kuat.”

 

Swasta yang kuat?

 

Di pameran keramik Asaki minggu lalu itu, saya menyaksikan produsen-produsen keramik Indonesia bergeliat menyambut tumbuhnya kelas menengah. Sekitar 40 produsen lokal merebutkan kue pasar Rp 25 triliun–Rp 30 triliun. Awal tahun ini saja (kuartal I), total penjualannya telah menembus Rp 7 triliun. Sementara backlog rumah murah masih ada 15,4 juta.

 

Di antara pelaku-pelaku usaha itu, ada satu produsen yang mendapat perhatian para arsitek dan pedagang-pedagang besar keramik. Namanya Centro. Booth-nya terletak di tengah-tengah, persis di dekat pintu masuk. Dan menarik perhatian saya, ketika semua pelaku melarang tamu memotret karya-karya mereka, Centro Ceramic justru memajang tulisan: Silahkan difoto.

 

Yang membuat produsen-produsen itu khawatir adalah pencurian desain. Begitu sebuah desain difoto, dalam tempo sekejap, semua pemain sudah bisa membuatnya. Bukan hanya produsen kita, melainkan juga produsen-produsen asing yang berpura-pura datang untuk membeli dan meminta sample.

 

Lain halnya dengan Centro yang kini menjadi leader dalam inovasi. Desainnya unik. Bentuk keramik ubin yang biasanya hanya kotak-kotak saja (segi empat), dia ubah ke dalam bentuk-bentuk baru yang unik. Desain warnanya sangat menarik, bahkan membuat saya membeli cukup banyak untuk di pasang di Rumah Perubahan.

 

Centro juga banyak diminati di luar negeri. Ekspornya menjelajahi kelas menengah Tiongkok, India, Malaysia, dan Mauritius. Sewaktu saya tanya mengapa ia membiarkan karya-karyanya difoto, Sharif Said, wirausaha pendiri Centro, menjawab dengan penuh rasa bersahabat. ”Bukan cuma boleh difoto, diambil juga saya kasih. Di sini, keramik-keramik ubin kami dibagi-bagikan karena sekalipun jatuh ke pesaing, mereka tidak sanggup membuatnya. Rahasianya ada research & development, saya menekuninya selama 4 tahun, dan mesin-mesin baru tak bisa membuatnya.”

 

Diperlukan kerja keras untuk  menemukan rahasianya. Keramik bukan cuma harus bagus, tetapi juga kuat dan tidak cacat. Centro penuh percaya diri. Desain-desainnya bagus dan mereka sudah siap dengan desain untuk empat tahun ke depan.

 

”Setiap kami membuat yang baru selalu ditiru. Sudah beberapa produsen kami tuntut. Sebagian minta maaf dan minta agar namanya tidak disebarluaskan. Mereka memilih membayar ganti rugi karena takut nama baiknya tercemar.”

 

Memang Centro bukan pemain baru. Ia sudah ada semenjak 1980-an. Tetapi, nama merek Centro baru digunakan tiga tahun terakhir. Merekalah yang menciptakan pasar keramik di Jalan Percetakan Negara, Jakarta. Seperti yang Anda ketahui, pusat perdagangan keramik di ibu kota dikenal dengan istilah 3 P: Pinangsia, Percetakan Negara, Jalan Panglima Polim. Di situlah tempat para arsitek kondang, desainer interior, dan pemborong-pemborong bangunan menghabiskan waktu untuk mendapatkan inspirasi sekaligus membeli keramik-keramik, baik untuk lantai, dinding, dapur, patung, maupun kamar mandi.

 

Saya mengerti Anda masih penasaran bagaimana inovasi bisa dilakukan dalam sebuah bingkai kewirausahaan. Saya berencana menulis lebih detail kaitan keduanya, dengan case study Centro Ceramic minggu depan. Centro yang kaya inovasi kini menjadi pemain unggulan, bahkan mulai menggeser merek-merek terkenal yang namanya Anda ingat, seperti Roman, Mulia, dan Picasso. Centro juga menjadi andalan Presiden SBY yang akhir 2011 memborong untuk rumahnya di Cikeas.

 

Presiden bahkan mampir di pabrik yang penuh dengan keajaiban itu. Minggu depan saya lanjutkan yah! (*)

Sumber: http://padangekspres.co.id/?news=nberita&id=3342

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s