Bedug Terbesar di Dunia

Siapa diantara pembaca yang bertempat tinggal di Purworejo yang belum pernah melihat langsung bedug Purworejo? Kalau saya sudah, kalau belum liat aja di Masjid Agung Purworejo, dan ingat karena ini masjid jangan berniat untuk melihat bedung aja, karena masjid merupakan tempat ibadah.

Bedug terbesar di dunia berada di dalam Masjid Darul Muttaqien, Purworejo . Bedug ini merupakan karya besar umat Islam yang pembuatannya diperintahkan olehAdipati Tjokronagoro I, Bupati Purworejo pertama. dibuat pada tahun 1762 Jawa atau 1834 M . Dan diberi nama Kyai Begelan. Ukuran atau spesifikasi bedug iniadalah : Panjang 292 cm, keliling bagian depan 601 cm, keliling bagian belakang 564 cm, diameter bagian depan 194 cm, diameter bagian belakang 180 cm. Bagian yang ditabuh dari bedug ini dibuat dari kulit banteng. Bedug raksasa ini dirancang sebagai “sarana komunikasi” untuk mengundang jamaah hingga terdengar sejauh-jauhnya lewat tabuhan bedug sebagai tanda waktu salat menjelang adzan dikumandangkan.

Update
nemu artikel http://wongpurworejo.blogspot.com/2012/02/pendopo-kabupaten-purworejo.html

Bedhug Pendhowo dibuat pada tahun 1834 dibawah pengawasan Wedono Jenar Raden Ngabehi Prawironegoro. Bedhug Pendowo terbuat dari pangkal batang pohon jati Pendhowo yang dulu tumbuh di Dukuh Pendhowo, Desa Bragolan, Kecamatan Purwodadi,sekitar 9 kilometer arah selatanKota Purworejo.
Pangkal batang pohon jati Pendhowo memiliki garis tengah lebih dari dua meter dengan ketinggian pohonya mencapai puluhan meter. Pohon jati Pendhowo berukuran “raksasa” ini usianya sudahratusan tahun. Desa Bragolan sendiri merupakan tanah kelahiran Raden Ngabehi Singo Wijoyo yang tak lain ayah Cokronegoro I.
Sehingga pada saat menjabat Bupati Purworejo dan ingin membangun masjid serta pendopo kabupaten, Cokronegoro I menugaskan orang untuk menebang pohon tersebut. Cabang-cabang pohonjati Pendhowo selanjutnya digunakan untuk membangun masjid dan pendopo kabupaten. Sementara pangkal batangnya yang berukuran sangat besar itu digunakan untuk membuat sebuah bedhug.
Begitu besarnya ukuran pangkalbatang tersebut sehingga pembuatan bedhug “raksasa” dilakukan ditempat. Pembuatan bedhug memakan waktu sekitar tujuh bulan. Prosesnya, setelah batang kayu dikupas, bagian dalam pangkal batang dibakar dengan arang kayu asam. Sebabhanya arang kayu asam saja yang dapat dan mampu menembus kayu jati berusia ratusan tahun.
Untuk menembus batang kayu membutuhkan waktu pembakaran sekitar tiga bulan. Setelah tembus kemudian dirapikan dengan tatah dan membutuhkan waktu sekitar dua bulan. Setelah bedhug jadi, muncul persoalan baru, yakni bagaimana cara mengangkut bedhug tersebut ke Masjid Agung di Purworejo. Apalagi pada waktu itu sarana transportasi masih sangat terbatas ditambah kondisi jalan tidak semulus seperti sekarang ini.
Belum lagi ukuran bedhug Pendhowo yang luar biasa besar. Panjang bedhug 292 cm, lingkaran bagian depan 601 cm, lingkaran belakang 564 cm, diameter bagian depan 194 cm dan diameter bagian belakang 180 cm. Akhirnya bupati mengadakan sayembara barang siapa mampu membawa bedhug Pendhowo dari Desa Bragolan ke Masjid Agung akan diberi hadiah yang layak. Setelah beberapa lama berlalu akhirnya ada orang yang sanggup membawa bedhug tersebut.
Orang itu adalah Kiai Irsyad, seorang ulama besar dari Desa Solotiang, Loano. Namun demikian Kiai Irsyad tidak sendirian dalam memboyong bedhug tersebut, melainkan dibantu oleh puluhan orang. Metode yang digunakan Kiai Irsyad dalam mengangkut bedhug tersebut cukup unik dan cerdas. Yaitu dengan menaruh gelondongan –gelondongan kayu kecil dibawah bedhug.
Setiap gelondongan kayu kecil yang sudah terlewati bedhug akan ditaruh didepan sehingga akan sambung menyambung layaknya roda-roda kecil. Mengingat besarnya bedhug, Kiai Irsyad mendirikan 20 pos peristirahatan. Setiap hari pengangkutan harus mampu mencapai satu pos yang berjarak sekitar 500 meter.
Setiap berhenti pada pos peristirahatan para pekerja akan dihibur oleh kesenian tayub dan penari wanita atau teledhek. Karena itu, cerita yang berkembang di masyarakat pada waktu itu mengibaratkan bedhug tersebutditarik oleh selendang penari tayub. Demikian seterusnya hingga perjalanan itu sampai kePurworejo. Untuk pengangkutanbedhug tersebut dibutuhkan waktu sekitar 21 hari. Agar awet dan bertahan lama , Bedhug Pendhowo menggunakankulit banteng dari Desa Sucen persembahan dari Glondhong Jayeng Kewuh yang tak lain teman seperjuangan Cokronegoro I. Untuk menambahgaung suara, di dalam Bedhug Pendhowo digantungkan gong.
Supaya tidak cepat rusak, Bedhug Pendhowo hanya ditabuh pada hari Jum’at atau perayaan keagamaan Islam.Hingga kini Bedhug Pendhowo merupakan salah satu aset wisata relegius yang tidak pernah sepi dikunjungi wisatawan. Sampai sekarang Bedhug Pendhowo masih tercatat sebagai bedhug terbesar di Indonesia yang bahanya terbuat dari kayu utuh tanpa sambungan.
Memang ada bedhug sejenis yang besarnya melebihi Bedhug Pendowo, namun semua menggunakan bahan kayu sambungan. Sehingga ke istimewaanya masih kalah dibanding Bedhug Pendhowo. Bedhug raksasa di Indonesia atau mungkin di dunia hanya ada dua. Seperti ditulis oleh Harian Kompas terbitan 22Februari 1978, ketika Masjid Istiqlal diresmikan, kutipannya sebagai berikut :
“Dengan adanya bedhug besar Masjid Istiqlal ini, Indonesia kini memiliki dua buah bedhug raksasa. Sebelumnya, bedhug MasjidPurworejo merupakan bedhug terbesar di Tanah Air. Garis tengahnya hanyaberbeda 8 cm. Bedhug Istiqlal 2 meter, sedang Purworejo 1,92 meter yangdibuat kurang lebih satu abad yang lalu”.
Bedhug Pendhowo adalah salah satu karya besar RAA Cokronegoro I yang kini diwariskan kepada masyarakat di daerahnya. Meski Cokronegoro I sudah banyak berjasa pada daerahnya, sayang namanya tidak pernah diingat apalagi dihargai.

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s