Facebookan dilarang oleh sekolah

Tas@dmin blog | Melarang penggunaan situs jejaring sosial di sekolah boleh-boleh saja, namun ini berarti sekolah merampas kesempatan belajar informal para murid. Bagaimanapun, tanpa teknologi, sekolah akan ketinggalan zaman.
Sebuah survei yang dilakukan Pew Internet & American Life Project mengungkapkan fakta bahwa 73 persen remaja menggunakan situs jejaring sosial. Meng-update halaman Facebook atau Twitter telah menjadi kegiatan rutin para remaja. Merekamenggunakan situs jejaring sosial untuk mencari tahu apa yang dilakukan teman-teman mereka.
Sebagian besar remaja ini menggunakan situs jejaring sosial di luar sekolah. Ini karena banyaksekolah melarang murid mengakses situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter, karena secara edukasi dianggap tidak relevan bagi sekolah. Tak jarang sekolah juga mem-filter komputer agar murid tak bisa mengakses layanan tersebut.
Ibaratnya menggunakan buku, buku mungkin menjadi yang utama dipakai di sekolah. Tapi tidak semua buku cocok dipakai di sekolah. Para pendidik tidak mungkin melarang penggunaan buku hanya karena ada beberapa buku yang tidaksesuai. Yang ada yaitu pendidik memilih buku yang sesuai digunakan di sekolah sesuai kurikulum pendidikan.
Hal yang sama, menurut co-director ConnectSafely.org, Anne Collier, seharusnya juga diterapkan untuk situs jejaring sosial. Karena tidak semua isi di situs jejaring sosial berdampak buruk.
Larangan-larangan, terlebih lagi di era internet seperti sekarangini, dikhawatirkan akan mengganggu proses belajar informal anak. Banyak ide-ide inovatif yang sebenarnya bisa dijalankan, misalnya membuat tools jejaring sosial khusus untuk sekolah.
Ide pembuatan situs jejaring khusus tersebut telah dikembangkan Flat Classroom Project ( http://flatclassroomproject.ning.com ), sebuah proyek kolaboratif global yang membuat situs jejaring sosial khusus untuk sekolah. Lewat situs ini, para murid dapatberinteraksi layaknya di situs jejaring sosial lain tidak hanya dengan teman sekelas, tetapi juga dengan murid di sekolah lain, baik di Amerika Serikat maupun luar negeri.
Proyek ini berbasiskan Web 2.0 sehingga komunikasi dan interaksi antara siswa dan guru dari semua kelas di seluruh dunia dapat berjalan lebih mudah. Lewat situs ini, para murid‘dirangsang’ untuk menganalisis tren teknologi, memahami efek teknologi bagi dunia menurut pandangan pribadi, membuat halamanweb, blogging, mem-posting foto, video dan wiki.
Ide seperti ini bukan tidakmungkin diterapkan di Indonesia. Jadi, bukan berarti perkembangan teknologi harus dibendung, tetapi yang harus dilakukan adalah mengantisipasinya dengancara-cara yang inovatif seperti yang dikembangkan Flat Classroom Project.
Sumber : ConnectSafely.org, 8 Maret 2010

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s